Saturday, 30 September 2017
Penelitian Terbaru Obat Herbal Dan Medis Menyembuhkan Segala Macam Penyakit
Kita sudah mengetahui bahwa ekstrak buah sesoot mampu mematikan sel-sel kanker payudara. Tapi, tahukah Anda bahwa ekstrak buah ini bila dikombinasi dengan doksorubisin bisa membuat pengobatankanker lebih baik. Enggak percaya?
Ya, hasil penelitian terbaru Dr. Sri Utami, S.Si., M.Si., S.H menemukan doksorubisin yang dikombinasikan dengan ekstrak buah sesoot bisa mematikan sel kanker (jenis MCF-7 maupun T47D).
“Sampel ini merupakan perpaduan herbal dan zat kimia, serta bisa untuk pengobatankanker payudara jadi lebih baik,” katanya di Ruang Senat Akademik Fakultas, Lantai 2, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (18/3/2014).
Mengenai objek penelitian ini, Dr. Sri menuturkan bahwa penelitian ini model sel kanker payudara MCF-7 yang resisten terhadap doksorubisin dan sel T47D yang sensitif terhadap doksorubisin. Doksorubisin digunakan sebagai pemodelan obat yang digunakan secara luas dalam mengobati kanker (kemoterapi), terutama kanker payudara.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini juga digunakan pemodelan sel normal, yaitu sel Vero untuk melihat apakah sampel yang digunakan dapat merusak sel normal Vero tersebut, selain mematikan sel kanker payudara MCF-7 dan T47D. Dan ditemukan kombinasi itu memberikan hasil sinergis yang mampu mematikan sel MCF-7 dan T47, serta memberikan kematian yang lebih rendah terhadap sel Vero dibandingkan bentuk tunggalnya. Sehingga perpaduan ini saat berpotensi sebagai pengobatan kanker payudara di masa depan.
Sementara mengenai efek samping perpaduan obat itu, dia menjelaskan asal dosisnya pas, tentu tak akan memberi efek negatif apa pun dalam tubuh. Tapi saat ini karena masih dalam fase klinis dan belum diuji ke manusia, menakarkan dosis adalah cara yang paling baik.
Ya, hasil penelitian terbaru Dr. Sri Utami, S.Si., M.Si., S.H menemukan doksorubisin yang dikombinasikan dengan ekstrak buah sesoot bisa mematikan sel kanker (jenis MCF-7 maupun T47D).
“Sampel ini merupakan perpaduan herbal dan zat kimia, serta bisa untuk pengobatankanker payudara jadi lebih baik,” katanya di Ruang Senat Akademik Fakultas, Lantai 2, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (18/3/2014).
Mengenai objek penelitian ini, Dr. Sri menuturkan bahwa penelitian ini model sel kanker payudara MCF-7 yang resisten terhadap doksorubisin dan sel T47D yang sensitif terhadap doksorubisin. Doksorubisin digunakan sebagai pemodelan obat yang digunakan secara luas dalam mengobati kanker (kemoterapi), terutama kanker payudara.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini juga digunakan pemodelan sel normal, yaitu sel Vero untuk melihat apakah sampel yang digunakan dapat merusak sel normal Vero tersebut, selain mematikan sel kanker payudara MCF-7 dan T47D. Dan ditemukan kombinasi itu memberikan hasil sinergis yang mampu mematikan sel MCF-7 dan T47, serta memberikan kematian yang lebih rendah terhadap sel Vero dibandingkan bentuk tunggalnya. Sehingga perpaduan ini saat berpotensi sebagai pengobatan kanker payudara di masa depan.
Sementara mengenai efek samping perpaduan obat itu, dia menjelaskan asal dosisnya pas, tentu tak akan memberi efek negatif apa pun dalam tubuh. Tapi saat ini karena masih dalam fase klinis dan belum diuji ke manusia, menakarkan dosis adalah cara yang paling baik.
Meski sejak dahulu herbal diyakini memiliki banyak khasiat untuk mengobati berbagai penyakit, tapi keberadaannya sebagai obat alami di Indonesia masih harus melalui perjuangan keras.
Pasalnya, masih minimnya penelitian tentang khasiat herbal di Indonesia menjadi hambatan bagi perkembangan obat alami (herbal) sehingga tak sepesat obat medis modern.
Padahal di negara-negara lain, termasuk negara maju seperti Amerika sekalipun, para penelitinya mulai gencar melakukan penelitian tentang khasiat herbal yang diakui mampu membantu mengobati berbagai penyakit serius.
Meski demikian kita mulai bisa tersenyum lega, karena Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan Ikatan Dokter Indonesia, beberapa waktu lalu telah memberi lampu hijau bagi perkembangan herbal di Indonesia.
Mereka telah mendorong para dokter untuk meresepkan jamu dalam menangani pasiennya. Jamu, yang sebelumnya dikategorikan sebagai obat tradisional yang terpisah dari dunia medis, kini bisa berkolaborasi dengan resep pengobatan dunia modern.
Bahkan, menurut Ketua Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI), dr Hardhi Pranata, kombinasi pengobatan medis modern dengan jamu (herbal) dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara lebih maksimal.
Ia menjelaskan, secara empiris sejak ratusan tahun lalu jamu memang sudah digunakan sebagai pengobatan secara turun-menurun oleh masyarakat, terlebih Indonesia sejak dahulu kala sudah kaya dengan tanaman obat.
Ini dibuktikan dari kekayaan alam Indonesia yang mempunyai sekitar 9.500-an jenis tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat. Karenanya, lanjut dia, harus ada lembaga yang mengurus tanaman obat (herbal) tersebut.
"Saat ini sudah ada 18 herbal yang lulus standar uji klinis dan lima jenis masih proses. Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono) ingin ada percepatan. Dan ini memerlukan sinergi antara Kementerian Kesehatan, Badan POM, Kementerian Pertanian, dan pihak lainnya," jelasnya kepada Beritasatu.com
Masalah yang harus diperhatikan adalah menginvestaris, mematenkan serta meneliti tumbuhan herbal (jamu), serta mempercepat program jamu berbasis evidence based medicine (kedokteran berdasarkan bukti).
"Dalam sertifikasinya jamu juga harus sudah didukung oleh Kemenkes, BPOM, PB IDI, GP Jamu, BalitroKem Pertanian, BPPT, LIPI dan berbagai universitas dan perhimpunan," imbuh dokter yang menjadi tim peneliti untuk Nanjing University Chinese Medicine dan RS Khusus Kanker Dharmais, Jakarta ini.
Hardhi mengakui, penelitian tentang pengobatan herbal penting dilakukan agar ada bukti ilmiah bahwa berbagai herbal yang ada di Indonesia itu memang berkhasiat bagi kesehatan.
Pengobatan yang menggunakan herbal, kata dia, memang akan terus ditingkatkan melalui budidaya tumbuhan dan penelitian sehingga masyarakat memiliki alternatif untuk membantu proses perawatan kesehatan.
Ia menambahkan keseriusan pemerintah untuk mengembangkan jamu sebagai obat yang bisa dimasukkan dalam resep dokter sebenarnya sudah diwujudkan melalui program kursus saintifikasi jamu untuk para dokter yang ditempuh dalam waktu 50 jam.
Program tersebut, lanjut Hardhi, diselenggarakan oleh Balitbang Kemkes RI di Tawangmangu, Solo, Jawa Tengah. Bahkan Program Studi Magister Herbal Medik UI pun sudah dibuka sejak 2009.
Meski begitu tetap saja hingga kini belum semua dokter mau mempraktikkan terapi kombinasi obat medis modern dengan jamu (terapi komplementer) tersebut.
Hal ini terjadi karena pendidikan kedokteran konvensional (medis barat) belum memasukkan kurikulum herbal.
Sehingga para dokter tidak punya kompetensi meresepkannya, kecuali jamu tersebut, lanjutnya, sudah melalui uji klinis berdasar kaidah evidence based medicine.
Amerika pun Meneliti Kunyit
Bila di Indonesia persoalan yang dihadapi masih berkutat pada minimnya penelitian terhadap khasiat herbal.
Di Amerika, tahun ini para penelitinya berhasil membukti melalui penelitiannya bahwa obat alami yang terdapat pada rempah-rempah memang berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk kanker.
Bharat Aggarwal, peneliti dari Department of Experimental Therapeutics, Division of Cancer Medicine, The University of Texas MD Anderson Cancer Center, Houston, TX, baru-baru ini melakukan penelitian terhadap rempah-rempah seperti kunyit yang selama ini sering digunakan sebagai pengobatan alami untuk mengatasi berbagai penyakit.
Dalam penelitiannya ia menemukan, bahwa baik kunyit maupun rempah-rempah lainnya terbukti mampu membantu menghentikan kanker.
"Selain sebagai pengawet daging, rempah-rempah tersebut mempunyai khasiat anti-jamur, anti bakteri, dan anti-virus," jelasnya.
Temuan serupa juga dialami oleh ilmuwan dari John Hopkins University, Baltimore, Amerika Serikat.
Ia menemukan bahwa bunga Foxglove secara dramatis dapat memperlambat migrasi dari sel-sel ganas kanker ke bagian lain dari tubuh.
Foxglove merupakan salah satu tanaman pertama yang akan digunakan untuk pengembangan obat-obatan farmasi.
Tanaman dengan bunga khas berbentuk lonceng tersebut bisa digunakan untuk menghentikan penyebaran kanker payudara.
Bahan kimia yang ditemukan dalam bunga tersebut dapat memblokir produksi protein HIF-1, protein pengontrol gen yang memungkinkan sel-sel kanker bertahan hidup di lingkungan rendah oksigen, misalnya berada jauh di dalam sebuah tumor padat.
"Ini benar-benar menarik," kata pemimpin penelitian dari Institute for Cell Engineering di John Hopkins University, Dr Gregg Semenza.
"Temuan kami menjamin uji klinis untuk menentukan apakah dosis itu cukup untuk memblokir produksi protein HIF-1 dan memperlambat pertumbuhan dan penyebaran kanker payudara."
Bunga Foxglove terkenal beracun tapi juga sangat bermanfaat sejak tahun 1780-an. Obat herbal tradisional yang dibuat dari tanaman tersebut berhasill menangani gagal jantung.
Dokter William Withering melihat peningkatan yang luar biasa pada pasiennya yang mengalami gagal jantung kongestif setelah menggunakan obat herbal tersebut
Selain bisa digunakan untuk melawan kanker payudara, bahan kimia dari bunga ini juga mampu mengobati kanker prostat.
Herbal India untuk Kanker
Penyakit kanker memang masih menjadi salah satu perhatian utama para peneliti di dunia, mengingat hingga kini memang belum ada obat yang benar-benar mampu menyembuhkan penyakit tersebut.
Namun dengan adanya beberapa temuan tentang khasiat herbal yang memiliki potensi untuk melawan sel kanker, sedikit banyak memberi harapan baru di kalangan medis untuk menemukan obat yang benar-benar mampu menghambat atau bahkan membunuh sel kanker tersebut.
Upaya itu juga yang dilakukan para peneliti dari Rohtak, India. Belum lama ini, mereka mengumumkan hasil penelitian terbarunya tentang potensi tanaman liar asli India yang berkhasiat obat untuk mengatasi infeksi bakteri dan jamur dalam mulut pasien kanker mulut.
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa delapan dari tanaman yang diuji mampu secara signifikan memengaruhi pertumbuhan organisme (bakteri dan jamur). Beberapa herbal tersebut adalah asparagus liar, desert date, false daisy, pohon kari, minyak kastor dan fenugreek.
"Obat-obatan alami semakin penting dalam mengobati penyakit dan pengobatan tradisional memberikan titik awal dalam mencari obat-obatan berbasis tanaman. Temuan terpenting dari penelitian ini adalah proses ekstraksi ternyata memiliki pengaruh besar pada kedua spesifisitas dan efektivitas ekstrak tanaman terhadap mikroba," kata Dr Jaya Parkash Yadav.
Pasalnya, masih minimnya penelitian tentang khasiat herbal di Indonesia menjadi hambatan bagi perkembangan obat alami (herbal) sehingga tak sepesat obat medis modern.
Padahal di negara-negara lain, termasuk negara maju seperti Amerika sekalipun, para penelitinya mulai gencar melakukan penelitian tentang khasiat herbal yang diakui mampu membantu mengobati berbagai penyakit serius.
Meski demikian kita mulai bisa tersenyum lega, karena Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan Ikatan Dokter Indonesia, beberapa waktu lalu telah memberi lampu hijau bagi perkembangan herbal di Indonesia.
Mereka telah mendorong para dokter untuk meresepkan jamu dalam menangani pasiennya. Jamu, yang sebelumnya dikategorikan sebagai obat tradisional yang terpisah dari dunia medis, kini bisa berkolaborasi dengan resep pengobatan dunia modern.
Bahkan, menurut Ketua Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI), dr Hardhi Pranata, kombinasi pengobatan medis modern dengan jamu (herbal) dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara lebih maksimal.
Ia menjelaskan, secara empiris sejak ratusan tahun lalu jamu memang sudah digunakan sebagai pengobatan secara turun-menurun oleh masyarakat, terlebih Indonesia sejak dahulu kala sudah kaya dengan tanaman obat.
Ini dibuktikan dari kekayaan alam Indonesia yang mempunyai sekitar 9.500-an jenis tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat. Karenanya, lanjut dia, harus ada lembaga yang mengurus tanaman obat (herbal) tersebut.
"Saat ini sudah ada 18 herbal yang lulus standar uji klinis dan lima jenis masih proses. Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono) ingin ada percepatan. Dan ini memerlukan sinergi antara Kementerian Kesehatan, Badan POM, Kementerian Pertanian, dan pihak lainnya," jelasnya kepada Beritasatu.com
Masalah yang harus diperhatikan adalah menginvestaris, mematenkan serta meneliti tumbuhan herbal (jamu), serta mempercepat program jamu berbasis evidence based medicine (kedokteran berdasarkan bukti).
"Dalam sertifikasinya jamu juga harus sudah didukung oleh Kemenkes, BPOM, PB IDI, GP Jamu, BalitroKem Pertanian, BPPT, LIPI dan berbagai universitas dan perhimpunan," imbuh dokter yang menjadi tim peneliti untuk Nanjing University Chinese Medicine dan RS Khusus Kanker Dharmais, Jakarta ini.
Hardhi mengakui, penelitian tentang pengobatan herbal penting dilakukan agar ada bukti ilmiah bahwa berbagai herbal yang ada di Indonesia itu memang berkhasiat bagi kesehatan.
Pengobatan yang menggunakan herbal, kata dia, memang akan terus ditingkatkan melalui budidaya tumbuhan dan penelitian sehingga masyarakat memiliki alternatif untuk membantu proses perawatan kesehatan.
Ia menambahkan keseriusan pemerintah untuk mengembangkan jamu sebagai obat yang bisa dimasukkan dalam resep dokter sebenarnya sudah diwujudkan melalui program kursus saintifikasi jamu untuk para dokter yang ditempuh dalam waktu 50 jam.
Program tersebut, lanjut Hardhi, diselenggarakan oleh Balitbang Kemkes RI di Tawangmangu, Solo, Jawa Tengah. Bahkan Program Studi Magister Herbal Medik UI pun sudah dibuka sejak 2009.
Meski begitu tetap saja hingga kini belum semua dokter mau mempraktikkan terapi kombinasi obat medis modern dengan jamu (terapi komplementer) tersebut.
Hal ini terjadi karena pendidikan kedokteran konvensional (medis barat) belum memasukkan kurikulum herbal.
Sehingga para dokter tidak punya kompetensi meresepkannya, kecuali jamu tersebut, lanjutnya, sudah melalui uji klinis berdasar kaidah evidence based medicine.
Amerika pun Meneliti Kunyit
Bila di Indonesia persoalan yang dihadapi masih berkutat pada minimnya penelitian terhadap khasiat herbal.
Di Amerika, tahun ini para penelitinya berhasil membukti melalui penelitiannya bahwa obat alami yang terdapat pada rempah-rempah memang berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk kanker.
Bharat Aggarwal, peneliti dari Department of Experimental Therapeutics, Division of Cancer Medicine, The University of Texas MD Anderson Cancer Center, Houston, TX, baru-baru ini melakukan penelitian terhadap rempah-rempah seperti kunyit yang selama ini sering digunakan sebagai pengobatan alami untuk mengatasi berbagai penyakit.
Dalam penelitiannya ia menemukan, bahwa baik kunyit maupun rempah-rempah lainnya terbukti mampu membantu menghentikan kanker.
"Selain sebagai pengawet daging, rempah-rempah tersebut mempunyai khasiat anti-jamur, anti bakteri, dan anti-virus," jelasnya.
Temuan serupa juga dialami oleh ilmuwan dari John Hopkins University, Baltimore, Amerika Serikat.
Ia menemukan bahwa bunga Foxglove secara dramatis dapat memperlambat migrasi dari sel-sel ganas kanker ke bagian lain dari tubuh.
Foxglove merupakan salah satu tanaman pertama yang akan digunakan untuk pengembangan obat-obatan farmasi.
Tanaman dengan bunga khas berbentuk lonceng tersebut bisa digunakan untuk menghentikan penyebaran kanker payudara.
Bahan kimia yang ditemukan dalam bunga tersebut dapat memblokir produksi protein HIF-1, protein pengontrol gen yang memungkinkan sel-sel kanker bertahan hidup di lingkungan rendah oksigen, misalnya berada jauh di dalam sebuah tumor padat.
"Ini benar-benar menarik," kata pemimpin penelitian dari Institute for Cell Engineering di John Hopkins University, Dr Gregg Semenza.
"Temuan kami menjamin uji klinis untuk menentukan apakah dosis itu cukup untuk memblokir produksi protein HIF-1 dan memperlambat pertumbuhan dan penyebaran kanker payudara."
Bunga Foxglove terkenal beracun tapi juga sangat bermanfaat sejak tahun 1780-an. Obat herbal tradisional yang dibuat dari tanaman tersebut berhasill menangani gagal jantung.
Dokter William Withering melihat peningkatan yang luar biasa pada pasiennya yang mengalami gagal jantung kongestif setelah menggunakan obat herbal tersebut
Selain bisa digunakan untuk melawan kanker payudara, bahan kimia dari bunga ini juga mampu mengobati kanker prostat.
Herbal India untuk Kanker
Penyakit kanker memang masih menjadi salah satu perhatian utama para peneliti di dunia, mengingat hingga kini memang belum ada obat yang benar-benar mampu menyembuhkan penyakit tersebut.
Namun dengan adanya beberapa temuan tentang khasiat herbal yang memiliki potensi untuk melawan sel kanker, sedikit banyak memberi harapan baru di kalangan medis untuk menemukan obat yang benar-benar mampu menghambat atau bahkan membunuh sel kanker tersebut.
Upaya itu juga yang dilakukan para peneliti dari Rohtak, India. Belum lama ini, mereka mengumumkan hasil penelitian terbarunya tentang potensi tanaman liar asli India yang berkhasiat obat untuk mengatasi infeksi bakteri dan jamur dalam mulut pasien kanker mulut.
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa delapan dari tanaman yang diuji mampu secara signifikan memengaruhi pertumbuhan organisme (bakteri dan jamur). Beberapa herbal tersebut adalah asparagus liar, desert date, false daisy, pohon kari, minyak kastor dan fenugreek.
"Obat-obatan alami semakin penting dalam mengobati penyakit dan pengobatan tradisional memberikan titik awal dalam mencari obat-obatan berbasis tanaman. Temuan terpenting dari penelitian ini adalah proses ekstraksi ternyata memiliki pengaruh besar pada kedua spesifisitas dan efektivitas ekstrak tanaman terhadap mikroba," kata Dr Jaya Parkash Yadav.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment